Seorang teman dari ibu kota bertanya pada saya kemarin sore, “Kenapa sih chan, loe pengen cepet-cepet nikah?”.
Cepet-cepet? Belum tentu. Pengen? Sudah pasti. Saya gak berharap menikah cepat kok, secara standar ‘cepat’ untuk tiap orang itu beda ya *standar ‘menikah cepat’ saya adalah umur 23 dan sudah lewat, jadi kalau dekat-dekat ini saya ditakdirkan menikah namanya jadi ‘menikah’ saja*. Saya ingin menikah tepat. Tepat waktunya, tepat orangnya *amin*.
Anyways, mungkin pertanyaannya harus diubah menjadi, “Kenapa sih Chan, loe pengen nikah?”.
Apakah karena undangan pernikahan dari teman-teman, sepupu, kerabat, dan tetangga yang sebaya mulai menggelontor plus sahabat se-geng sudah hampir semua menikah?
Not necessarily
Walaupun desakan keluarga yang pengen saya cepat2 menikah TAPI....... Saya ingin menikah karena nikah itu ibadah. Terdengar naïf dan standar? Silahkan berpendapat apapun. Tapi itulah jawaban yang terlintas pertama kali di pikiran saya. Selebihnya itu, rasanya menikah akan memberikan ketenangan batin. Mungkin ya, karena saya juga belum pernah menikah. Tapi somehow saya percaya kalau menikah memang akan mengisi bagian yang kosong dari diri kita ketika masih melajang.
Menikah menurut saya akan menambah makna hidup. Kalau sejauh ini saya cuma bisa membayangkan gimana rasanya sholat berjamaah sama suami, setelah menikah nanti tentu saya bisa merasakan nikmatnya. InsyaAllah. Kalau sekarang saya cuma bisa wondering gimana rasanya dibimbing sama laki-laki yang saya cintai sekaligus saya hormati, kalau sudah menikah nanti saya akan tau rasanya. Pasti menyenangkan.
Kadang-kadang, after a hard day, saya berfikir mungkin rasanya akan lebih ringan kalau sudah menikah. Pulang kerumah dan berkeluh kesah pada sang suami, sambil menyeduhkan teh peppermint untuknya *saya nggak tau suami saya nanti suka teh peppermint atau ga, tapi kalau saya suka banget*. Dan somehow, sang suami selalu punya kata-kata sakti untuk membuat saya tersenyum dan melupakan segala kepenatan.
Kadang-kadang lagi, di minggu pagi ketika saya terbangun sendirian di kamar, sempat terpikir mungkin rasanya akan lebih hidup kalau melihat suami masih tertidur di sisi lain ranjang, lalu saya bangun dan menyiapkan sarapan pagi berupa segelas susu atau teh hangat dan nasi goreng ala chan *sekali lagi saya ga tau apakah suami saya nanti akan suka sarapan nasi goreng buat saya, tapi saya sih suka*. Dan instead of seharian nonton TV sendiri aja, saya menghabiskan hari minggu itu dengan berdiskusi ringan dengan suami. Atau jalan-jalan ke prigen. Atau ke mana kek.
Dan – lagi-lagi masih dalam konteks mungkin – karena sudah hidup berdua, jadi masalah juga ditanggung bersama. Di share, dan diselesaikan berdua. Terus, kalau boleh meminjam istilah mama saya, setelah menikah, seorang perempuan bisa 100% menitipkan diri dan hatinya pada laki-laki yang dia percayai. Selain itu kalau bokek juga bokek berdua. Masih mending daripada single dan bokek.
Belum lagi rasa bahagia ketika suatu pagi setelah menikah saya keluar dari kamar mandi sambil memegang test pack dan berkata pada suami saya, “Sayang, saya hamil”.
Oke. Bagi yang sudah menikah dan membaca postingan ini, mungkin akan berkomentar “Itu pernikahan utopis dalam imajinasimu, Nak”. Saya tau kok kehidupan setelah menikah gak akan mulus-mulus aja. Tapi karena saya belum menikah, boleh dong membayangkan hal-hal menyenangkan dulu.
Silahkan berkomentar apapun tentang postingan ini. Saya akan terima dengan senang hati. Kecuali satu hal, pertanyaan “Jadi kapan nikah?”*).
*) jawaban lihat postingan sebelumnya: It’s All in MayLabels: menye-menye
|
|
|
♥ white gold ring from my b**F*****
♥ guest watch for my b**F*****
♥ canon T77
♥ nikon D40
♥ nikor lens 55-200mm
♥ Flash Nikon SB800
♥ DELL Inspiron 1420 (WP737) - Pink
♥ BlackBerry Curve 8900
friendster chan.ndut@yahoo.com
Ym! : chan.ndut
|